Friday, March 20, 2015

Batu Akik (Giok Jadeite & Nephrite)



BATUNYA APA PENGETAHUANNYA?

Mana yang akan dipilih?


 Obrolan seputar batu akik


Demam batu akik ... wah ... wah ... wah ... keuntungannya menggiurkan.

Banyak orang-orang di Indonesia kini berbondong-bondong bisnis batu akik, emang lagi nge-trend yach ... Bahkan yang semula tidak pernah tertarik sedikitpun dengan yang namanya “batu ali”, kini malah menjadi “yang paling heboh” di antara para pecinta batu akik. Ya ... memang banyak alasan mengapa sekarang banyak orang di Indonesia yang menyukai batu akik.
Pertama, karena memang “dari sono-nya” sudah senang dengan batu perhiasan untuk memperindah jari jemarinya. Kedua, “terbawa arus” karena melihat orang lain yang menggunakannya tampak “elegan”, jadi ngikut dech... Ketiga, dan kayaknya ini yang paling diminati, “keuntungannya” dalam berbisnis batu akik sekarang ini yang ...bisa selangit ...
Semua alasan itu sah-sah saja, asal jangan untuk tujuan musyrik he...he...he...
Bagi saya pribadi yang emang sejak 27 tahun yang lalu sudah menyenangi batu cincin ketika saya masih suka dipelototi pak dosen di geografi, soal batu akik tidak begitu asing, bahkan seneng melihat begitu banyak orang di Indonesia yang kini bertambah pengetahuannya berkaitan dengan batu akik sebagai salah satu material pembentuk kerak bumi. Di antara para peminat batu akik itu bukan saja hanya tahu jenis dan nama lokal dari batu akik yang mereka minati, tetapi juga karakteristik hingga bagaimana batu akik itu terbentuk di daerah tempat ditemukannya. Seakan-akan mereka adalah ahli “perbatuan” (ahli geologi/semacam itu maksudnya he.. he...).
Tapi..., ada juga rasa khawatir di perasaanku... apa itu?
Mari kita renungkan, kita ini kalau sudah berurusan dengan yang namanya “keuntungan finansial” aluas “duit” dari suatu barang yang relatif mudah didapat, segala cara pasti akan dilakukan untuk memperoleh barang itu sebanyak-banyaknya. “Biar keuntungannya semakin banyak Gan ..., mumpung lagi mudah”, katanya.

Ya... kalau caranya benar sih boleh-boleh saja, tapi persoalannya bahan batu akik (gemstone) itu berada di dalam bongkahan batuan “pembungkusnya” (rock cover) yang ukurannya bisa puluhan kali lebih besar dari batuan yang akan digunakan sebagai batu akiknya.
Coba perhatikan salah satu jenis gemstone yang disebut andalusit yang pernah saya temukan ini (putih-bening mengkilap), ukurannya hanya sekitar 60 x 24 x 13 mm. Sementara, ukuran rock cover-nya 110 x 73 x 62 mm, jauh lebih besar bukan? Berarti, nantinya banyak bagian yang dibuang, “nggak jadi duit”. Belum lagi tempat ditemukannya batuan ini berada pada kedalaman ± 18-20 meter di bawah permukaan tanah.
Bisa dibayangkan, jika bahan batu akik yang kita inginkan ternyata ukurannya cukup besar seperti batu nepherit jadeit (batu giok) yang ditemukan di Aceh seberat hingga 20 ton, seberapa besar rock cover­-nya? Seberapa luas area yang harus dibongkarnya? Itu baru di satu tempat, berapa juta tempat yang kini menjadi arena penggalian bahan batu akik itu di Indonesia? Habislah alam kita ...
Jadi, apa kita tidak boleh memanfaatkan batuan-batuan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup ...? Ya nggak begitu juga sih, hanya saja jangan terlalu “rakus”, jangan “aji mumpung” lagi menguntungkan, orang Sunda bilang, “ulah ngahabek sataker kebek”.  Manfaatkanlah sebijak mungkin, biarkan ketersediaan batuan itu di alamnya tetap ada. Kita kan tahu kalau batuan itu terbentuknya membutuhkan waktu puluhan abad. Apa jadinya kalau jutaan orang di Indonesia beramai-ramai menggali-gali bukit dan tebing untuk mendapatkan batuan bahan-bahan batu akik yang hingga kini sudah hampir 8 bulan berlangsung? Wah...wah... bisa rata daratan Indonesia nih.
“Agan bisa aja kalau ngomong ... lha itu, agan sendiri kok bongkar-bongkar tanah sampe 20 meteran segala untuk dapetin batu yang agan sebut andalusit itu?”
Oh iya bener... Batuan itu saya dapatkan di suatu daerah ketika saat itu saya berada. Di tempat itu kebetulan sedang ada proyek pembangunan real estate pada suatu area perbukitan yang tanahnya mengandung bahan trass atau kaolin. Untuk meratakan bagian atas perbukitan itu, para pekerja proyek “mengupas” permukaan bukit dengan backhoe dan buldozer sampai kedalaman 25 meter dari permukaan tanah sebelumnya.
Nah, saya orangnya suka iseng, serba ingin tahu. Ketika backhoe itu mengeruk tanah, ada segumpal batu yang masih terlapisi tanah yang besranya kira-kira seukuran buah kelapa. Keingintahuan saya untuk mengetahui jenis batuan induk (badrock) pembentuk tanah di daerah itu mendorong saya untuk memungut gumpalan batu tadi, lalu saya pecahkan dengan palu geologi, ya... batu itulah yang tampak. Saya baru tahu bahwa jenis batuan yang ada di dalamnya adalah sejenis andalusit setelah batuan itu saya uji di laboratorium. Gitu ceritanya bos...
Memang saya pun punya beberapa koleksi batuan yang kini menjadi ramai sebagai bahan batu akik. Batuan-batuan itu saya peroleh ketika masih kuliah pada saat praktek lapangan yang diambil contohnya untuk diuji di laboratorium. Kini memang sebagian saya coba poles jadi batu perhiasan... ternyata indah juga he...he...

Pengetahuan seputar batu giok

Ngomong-ngomong soal batu perhiasan (gemstone), kayaknya akan lebih bermanfaat jika kita tidak sekedar mengoleksi atau memperjual-belikannya saja, tetapi juga berusaha untuk menambah pengetahuan kita tentang batuan tersebut. Semakin banyak pengetahuan kita tentang batuan itu, tampaknya akan sangat berpengaruh terhadap sikap bijak kita dalam memperlakukan batuan tersebut beserta alamnya. Tapi bukan berarti saya ahli dan lebih tahu lho!!!
Nah ... di sini saya ingin sedikit berbagi pengetahuan tentang salah satu jenis batuan yang kini ramai diperbincangkan sebagai salah satu jenis batu akik bernilai tinggi, yaitu batu Giok (Jadeite).
Batu giok atau jade (jadeite) merupakan jenis batuan ornamental yang terbentuk dari mineral silikat melalui proses metamorfosis, yaitu batuan yang terbentuk akibat tekanan dan rambatan panas magma yang tinggi. Itulah sebabnya, giok tergolong pada jenis batuan metamorfis (metamorphic rocks). Batu giok ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1.  Nephrite merupakan giok yang terbentuk dari kristal-kristal mikro (micro crystalline) dengan komposisi bahan-bahan mineral seperti kalsium, magnesium, dan besi-amphibole. Warna umum dari nephrite ini adalah hijau.
2.  Jadeite merupakan giok dengan matrix kristal yang terbentuk dari mineral sodium dan alumunium yang kaya akan pyroxene.
Karakteristik khusus kedua macam giok ini akan tampak dari karakteristik fisika dan kimiawinya seperti tampak pada tabel berikut:
Istilah jade (bhs. Inggeris) diambil dari bahasa Spanyol dalam menyebut jenis batu Ioin yaitu “piedra de ijada” sebagai batu yang digunakan untuk penyembuhan yang digunakan oleh masyarakat Kidney sekitar tahun 1565. Sedangkan nephrite diambil dari bahasa Latin yaitu lapis nephriticus sebagai varian dari piedra de ijada.
Batu giok ini sudah digunakan manusia sejak zaman neolitik pada masyarakat utilitarian Liangzhu (Tiongkok) yang berada di sekitar delta sungai Yangtze sekitar 3400 hingga 2250 tahun sebelum Masehi. Bahkan pada masyarakat Hongshan (Mongolia) yang berada di provinsi Liaoning sekitar tahun 4700 hingga 2200 sebelum Masehi.
Di kawasan Asia Tenggara sendiri, batu giok ini baru digunakan masyarakat sekitar tahun 500 sebelum Masehi, terutama pada masyarakat Philipina, Malaysia Timur, Vietnam daratan, Kamboja timur, dan Thailand.
Nah, itulah tadi sedikit informasi mengenai salah satu jenis batu perhiasan yang bernilai tinggi, baik secara ekonomi maupun kultur-historis. Jenis yang lainnya insya Allah lain kali. Semoga bermanfaat.